Kelebihan Metode Pembelajaran Kurikulum Cambridge - Geograph88

Kelebihan Metode Pembelajaran Kurikulum Cambridge

Kelebihan Metode Pembelajaran Kurikulum Cambridge
Bagi seorang guru atau pendidik, membicarakan kurikulum tentunya akan terasa sangat menarik bahkan menggelikan khususnya di negeri ini. 

Menggelikan karena setiap beberapa periode kurikulum selalu berganti tanpa adanya persiapan yang matang dalam berbagai aspek sehingga akhirnya guru kelabakan di sekolah. 

Kurikulum secara sederhana dapat diartikan sebagai sekumpulan perangkat/alat yang digunakan sekolah untuk mencapai tujuan sekolah itu sendiri. 

Saya sudah beberapa kali mengikuti pelatihan tentang kurikulum khususnya kurikulum nasional dan setelah dicermati, perubahan kurikulum di Indonesia lebih banyak bersifat administratif sedangkan esensi yang didapat tidak berubah, jadi guru nantinya sibuk merubah perangkat administrasi kurikulum bukan merubah pola pendekatan belajar bagi siswa. 

Kurikulum adalah jantungya sebuah institusi pendidikan dan tanpa kurikulum yang handal maka proses pendidikan dan pembelajaran akan tidak berjalan baik dan keluar dari target. 

Kurikulum pendidikan yang berlaku di Indonesia saat ini adalah KTSP dengan pengembangan selanjutnya menjadi Kurikulum Nasional 2013. Pendekatan yang digunakan dalam kurikulum 2013 pada prinsipnya sudah modern yaitu mengacu pada Scientific Method seperti dalam Cambridge. 

Dalam modul Cambridge Preparation yang saya baca, banyak sekali persiapan yang harus dilakukan oleh sekolah jika ingin menyelenggarakan program Cambridge. Kesiapan tersebut mulai dari guru, sarpras, sistem dan kebijakan sekolah dan lainnya. 

Memang perlu waktu bagi GIBS untuk mengeksekusi semua persyaratan yang ada bila ingin memakai kurikulum Cambridge secara utuh. 

Namun esensi Cambridge yang bisa sekolah ambil dan terapkan sekarang adalah bagaimana mengaplikasikan pendekatan pembelajaran yang digunakan Cambridge yaitu membuat siswa menjadi “reflective learner”. Kata “reflective learner” bagi saya baru pertama kali didengar dan agak sulit nampaknya untuk mendefinisikan dengan jelas maknanya. 

Dari berbagai literasi yang saya cari memang belum ada definisi yang pasti mengenai arti “reflective learner”  namun dari karakteristik yang dicantumkan di modul Cambridge dapat saya simpulkan bahwa “reflective learner” adalah bagaimana membentuk siswa menjadi seorang pembelajar sejati, belajar bagaimana belajar dan bagaimana mengelola perubahan baik untuk dirinya maupun lingkungannya. Konsep “reflective learner” sebenarnya sama saja dengan metode pendekatan belajar holistik yang sudah diajarkan dalam Islam yaitu 4 tahapan “iqra”.

1.  Iqra yang pertama adalah How to read?

Proses ini berawal dari mengamati (observe) objek-objek di lingkungan sekitar menggunakan panca indera. Pengamatan inilah yang membuka akal manusia dalam mencari tahu tentang apa sesungguhnya yang terjadi pada objek tersebut. Ingat bahwa Issac Newton melahirkan Teori Gravitasi dari mengamati buah apel yang jatuh ke bawah dari pohon.

2.  Iqra yang kedua adalah How to learn?

Tahapan ini adalah tahapan mencari tahu/mengkaji/menguji tentang suatu fenomena yang telah terekam oleh panca indera. Pengkajian secara mendalam membutuhkan berbagai literasi dan disiplin ilmu agar diperoleh teori.

3.  Iqra yang ketiga adalah How to understand?

Tahap ini adalah bagaimana seorang manusia memahami secara holistik tentang sebuah fenomena karena adanya suatu ikatan sebab akibat yang dilandasi oleh hasil sebuah pencarian/penelitian/belajar.

4.  Iqra yang keempat adalah How to meditate?

Iqra yang terakhir adalah tahapan puncak dari pembelajaran yaitu bagaimana menyadari, menghayati dan merenungi keberadaan objek/fenomena di alam raya sebagai kekuasaan Tuhan. Semua pencapaian dari pembelajaran tidak lain adalah untuk kembali kepada Tuhan sebagai pemilik semua ilmu.

Salah satu bagian lain yang saya sukai dari Cambridge Curriculum adalah dalam prosedur penilaian hasil belajar perserta didik. Pendekatan yang digunakan dalam kurikulum ini dominan adalah inkuiri dan sistematika penilaian dijabarkan dalam silabus mata pelajaran, jadi guru tinggal mambaca dan mengikuti prosedur tersebut.

 Ini tentunya menjadi salah satu kelebihan Cambridge disbanding kurikulum nasional yang tidak menjabarkan secara eksplisit tentang sistematika penilaian berbasis kolaboratif inkuiri. Contoh tahapan inkuiri dalam penilaian geografi Cambridge adalah sebagai berikut:  


A. MATERI POKOK
PEMUKIMAN DAN POLA KERUANGANNYA

B. IDENTIFIKASI MASALAH 
Siswa menentukan atau memilih beberapa hipotesa atau tema seputar masalah pemukiman seperti berikut:
“pemukiman yang besar akan berdampak pada peningkatan jumlah jasa”
“mobilitas penduduk yang tinggi berkaitan dengan arus barang yang tinggi”
“pelayanan di pemukiman kecil melibatkan komunitas lokal”

C.  MENENTUKAN TUJUAN
Siswa mengidentifikasi karakteristik setiap pemukiman dari sisi lokasi, lingkungan, ukuran, populasi, jumlah pusat pelayanan dan dampaknya. 

Berapa jumlah variabel yang dibutuhkan untuk diinvestigasi?, Jenis data dan peta apa yang dibutuhkan?. Setiap kelompok berdiskusi untuk menentukan variabel tersebut agar nantinya dapat mendukung dalam pengambilan hipotesa dan solusi. 

D. PROSEDUR KERJA
Siswa mengobservasi contoh di lingkungan sekitar mengenai kaitan antara pemukiman dengan layanan jasa. Bukti dicatat masing-masing anggota grup dan didiskusikan bersama di kelas. Jika observasi lapangan tidak memungkinkan makan penggunaan google map bisa menjadi solusi. 

E. PENGUMPULAN DATA
Penyeleksian data pendukung dibantu oleh guru namun siswa tetap diberikan kebebaasan untuk menentukan jumlah data agar mendukung terhadap pembuktian/hipotesa atas masalah yang terjadi 

F. PRESENTASI 
Siswa mempresentasikan hasil diskusi dalam sebuah peta, diagram atau media lain yang dirasa mendukung dan bisa dicerna baik oleh responden.  

Kurikulum hanya alat saja

Dari contoh model studi investigasi di atas, siswa akan dituntut untuk belajar secara holistik dan jawaban/hasil belajar akan diperoleh dengan jalan berfikir secara mendalam. Kemampuan siswa dalam mencari berbagai literasi dengan menggunakan ICT juga mutlak diperlukan.

Pada akhirnya setiap guru harus memiliki kemampuan sebagai manajer kurikulum dengan baik. Pakar kurikulum terkenal dari Amerika John Dewey pernah berkata ‘’berikan aku kurikulum paling buruk di dunia maka aku akan desain dengan kegiatan belajar yang menarik agar siswa belajar dengan baik di kelas’’. Kurikulum pada dasarnya adalah alat bantu dan penggunaan alat tersebut tergantung pada guru itu sendiri (man behind the gun). 

Sebaik apapun kurikulum tidak akan berarti tanpa guru yang kreatif dan mau belajar. Dari sisi sistematika, alat ukur, dan kedalaman materi saya berkesimpulan bahwa kurikulum Cambridge memang memiliki konten dan sistematika yang baik karena didukung oleh pengalaman dan sejarah panjang dari kurikulum itu sendiri. 

Kita sebagai guru secara hukum tetap menggunakan kurikulum nasional namun kekurangan-kekurangan yang terdapat pada kurikulum nasional dapat diatasi dengan mengadopsi pendekatan Cambridge dalam pembelajaran. Baca juga: Benarkah Pendidikan Terbaik ada di Finlandia?
close